Hasil Penelitian vs Pembahasan: Apa Perbedaannya?
Pelajari perbedaan hasil penelitian dan pembahasan, mulai dari fungsi, isi, contoh penulisan, hingga tips agar keduanya tidak tertukar dalam skripsi.
Saat menyusun skripsi atau laporan penelitian, bagian hasil penelitian dan pembahasan sering kali dianggap sama. Keduanya memang saling berkaitan, tetapi memiliki fungsi yang berbeda. Hasil penelitian menyajikan temuan yang diperoleh, sedangkan pembahasan menjelaskan makna dari temuan tersebut.
Jika kedua bagian ini tidak dibedakan dengan jelas, tulisan bisa menjadi berulang. Data yang seharusnya disajikan pada bagian hasil justru bercampur dengan interpretasi yang seharusnya dijelaskan dalam pembahasan.
Lalu, bagaimana cara membedakan hasil penelitian dan pembahasan? Simak penjelasannya berikut ini!
1. Hasil Penelitian: Apa yang Ditemukan?
Hasil penelitian adalah bagian yang menyajikan temuan berdasarkan data yang telah dikumpulkan dan dianalisis. Bagian ini membantu pembaca mengetahui apa yang ditemukan selama proses penelitian berlangsung.
Isi hasil penelitian dapat berbeda-beda, bergantung pada pendekatan dan metode yang digunakan. Beberapa hal yang bisa disajikan antara lain:
-
Data atau angka, seperti persentase responden, skor, dan hasil pengukuran.
-
Temuan wawancara atau observasi, seperti pola jawaban informan atau perilaku yang diamati.
-
Hasil pengujian hipotesis, jika penelitian menggunakan hipotesis dan pengujian statistik.
Misalnya, penelitian membahas intensitas penggunaan Instagram pada mahasiswa. Hasil penelitiannya dapat dituliskan seperti berikut:
Contoh hasil penelitian:
“Sebanyak 70% responden menggunakan Instagram lebih dari tiga jam sehari.”
Kalimat tersebut menunjukkan temuan berdasarkan data. Namun, kalimat itu belum menjelaskan alasan penggunaan Instagram yang tinggi atau makna temuan tersebut bagi penelitian.
2. Pembahasan: Apa Makna Temuan Itu?
Berbeda dengan hasil penelitian, pembahasan berisi interpretasi atau penjelasan mengenai arti temuan penelitian. Pada bagian ini, peneliti menghubungkan hasil yang diperoleh dengan rumusan masalah, teori, konsep, atau penelitian terdahulu yang relevan.
Pembahasan bukan sekadar mengulang data. Peneliti perlu menjelaskan mengapa temuan tersebut penting, bagaimana temuan itu dapat dipahami, serta apakah hasilnya sejalan atau berbeda dengan penelitian sebelumnya.
Sebagai contoh, dari temuan bahwa 70% responden menggunakan Instagram lebih dari tiga jam sehari, pembahasannya dapat dikembangkan menjadi:
Contoh pembahasan:
“Tingginya durasi penggunaan Instagram menunjukkan bahwa media sosial menjadi bagian yang cukup intens dalam keseharian responden. Temuan ini dapat dikaji lebih lanjut melalui konsep penggunaan media untuk memahami bagaimana responden memanfaatkan Instagram dalam aktivitas sehari-hari.”
Contoh tersebut menunjukkan upaya menafsirkan temuan. Agar pembahasannya kuat, penjelasan selanjutnya perlu didukung oleh teori, data penelitian, atau penelitian terdahulu yang relevan, bukan hanya asumsi peneliti.
3. Perbedaan Hasil Penelitian dan Pembahasan
Supaya lebih mudah dipahami, berikut perbedaan utama kedua bagian tersebut.
| Aspek | Hasil Penelitian | Pembahasan |
|---|---|---|
| Fokus utama | Apa yang ditemukan? | Apa makna temuan tersebut? |
| Isi | Data, angka, kutipan wawancara, hasil observasi, atau pengujian | Interpretasi, penjelasan, dan hubungan dengan teori atau penelitian terdahulu |
| Tujuan | Menyajikan temuan penelitian | Menjelaskan arti dan implikasi temuan |
| Pertanyaan panduan | Apa hasil analisis data? | Bagaimana hasil tersebut dapat dijelaskan? |
Hasil penelitian menyajikan temuan, sedangkan pembahasan membantu pembaca memahami makna temuan tersebut.
Kesimpulan
Hasil penelitian dan pembahasan merupakan dua bagian yang saling melengkapi dalam karya ilmiah. Hasil penelitian menyajikan temuan berdasarkan data, sedangkan pembahasan menjelaskan makna temuan tersebut dengan menghubungkannya pada teori, konsep, atau penelitian terdahulu.
Untuk membedakannya, gunakan dua pertanyaan sederhana: “Apa yang ditemukan?” untuk menulis hasil penelitian dan “Apa makna dari temuan itu?” untuk menyusun pembahasan.
Dengan memahami perbedaan keduanya, penulisan skripsi atau laporan penelitian dapat menjadi lebih sistematis, tidak berulang, dan memiliki analisis yang lebih kuat.